Sabtu, 31 Desember 2022

KEBERADAAN ZENDELING BELANDA DI KECAMATAN MOJOWARNO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1851-1923

 

Kedatangan bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-16, selain bertujuan untuk mencari rempah-rempah, juga berkeinginan untuk menyebarkan agama Katolik. Portugis membawa para misionaris Katholik terutama ke wilayah Maluku. Berbeda dengan Portugis, kedatangan Belanda lebih mengutamakan tujuan ekonomi melalui perdagangan, daripada menjalankan misi penyebaran agama. Sehingga usaha kristenisasi penduduk pribumi di Jawa baru terjadi pada awal abad ke 19[1].

Melalui usulan seorang pendeta Belanda dari Persekutuan Zending di Inggris, Dr. J. T. van der Kemp, maka berdirilah persekutuan dengan nama Nederlandse Zendeling Genootschap (NZG) pada tanggal 19 Desember 1797 di Rotterdam[2] yang menaruh perhatian terhadap pengkristenan pribumi. Sebelumnya, aktivitas agama Kristen menjadi monopoli pemerintah VOC, yang terbatas pada pemeliharaan ibadat bagi kalangan VOC dan keluarganya, anggota militer, dan orang-orang pribumi yang sebelumnya sudah menganut agama Kristen, misalnya suku yang berasal dari Maluku Utara, Ambon, Timor, dan Minahasa[3]. Pasca runtuhnya VOC pada tahun 1799, Indonesia diambil alih oleh pemerintah Belanda (Republik Bataaf)[4] dan Indonesia disebut sebagai Hindia Belanda.

NZG mulai masuk ke Indonesia setelah para utusannya belajar di negeri Belanda dan kemudian melanjutkan pelajarannya di Inggris hingga resmi menjadi pendeta. Pendeta yang dikirim antara lain J. Kam; J. C. Supper dan G. Bruckner yang mendarat di Jakarta pada tanggal 16 Mei 1814 dan disambut baik oleh Thomas Stanford Raffles (Inggris di Indonesia). Pendeta Kam diutus ke Ambon, Pendeta Supper di Jakarta, dan Bruckner di Semarang[5].

Sekitar tahun 1827-1829, di Jawa Timur berkembang desa Kristen yakni di Ngoro yang dikenalkan oleh tokoh yang bukan berasal dari kalangan teolog bernama Coenraad Laurens Coolen[6]. Ia menyiarkan agama Kristen dengan pendekatan budaya Jawa. Ajaran Coolen masih bersifat kejawen dan bercampur takhayul juga tidak dikenalnya baptisan dan perjamuan kudus. Selain Ngoro, di Wiyung dan Sidokere juga berkembang penduduk yang menganut Kristen melalui ajaran tokoh Johanes Emde. Melalui Emde-lah dikenal adanya pembaptisan dan perjamuan kudus bagi penganut agama Kristen. Baru pada tahun 1844 muncul desa baru bernama Mojowarno yang dibuka oleh pribumi  bernama Karolus Wiryoguno.

Karena di wilayah Jawa Timur telah banyak pribumi yang menganut agama Kristen, dan kondisi dinilai aman karena tidak terjadi perselisihan antara pemeluk agama Islam dan Kristen, maka pemerintah Hindia Belanda mengizinkan pekabaran injil dilakukan dan NZG diperkenankan mengirim utusannya. Jelle Eeltje Jellesma (lahir 13 Mei 1816) merupakan zendeling pertama yang diutus ke wilayah Surabaya pada tahun 1848. Kemudian Pada tahun 1851, Jellesma beserta keluarga dan para siswanya pindah ke Mojowarno, meskipun baru mendapat izin secara sah dari pemerintah pada tahun 1852[7].

 


Perkembangan Sekolah Zending di Mojowarno

Keberadaan Jellesma di Mojowarno tampaknya mendapat respon positif dari masyarakat di daerah tersebut karena ia dikenal sebagai orang yang  sabar dan bijaksana, serta tidak menganggap derajatnya lebih tinggi disbanding dengan Kristen pribumi. Di Mojowarno ia bekerja sama dengan Paulus Tosari, seorang pamulang pribumi (Guru Injil Jawa) yang diberi kesempatan untuk menjadi “gembala”[8]. Saat melakukan kebaktian di hari Minggu, Jellesma dan Paulus Tosari bergantian mengajar  atau menyampaikan khotbah.  Berkembangnya dua aliran Kristen, yakni aliran Barat/Eropa ajaran Johanes Emde dan aliran Kristen Jawa ajaran C. L. Coolen berhasil disatukan oleh Jellesma sehingga menjadi ciri khas bagi jemaat di Mojowarno. Pribumi yang masuk Kristen dapat dibaptis dan tanpa harus meninggalkan jati diri sebagai pribumi dan meniru kebiasaan orang Eropa seperti yang diajarkan oleh Johanes Emde.

Hingga tahun 1856 jemaat di Mojowarno telah berjumlah 1320 anggota, dan yang tinggal di Mojowarno berjumlah 633 orang.  Selain itu Jellesma juga membaptis orang-orang Kristen Ngoro yang datang ke Mojowarno. Jellesma juga mendirikan sekolah di Mojowarno, tujuan pendidikan pada awalnya agar anak-anak dapat membaca Alkitab. Cerita Alkitab adalah bahan bacaan pertama. Selain menulis dan membaca, juga terdapat pengajaran sederhana mengenai geografi dan sejarah. Para orang tua umumnya menganggap sekolah sebagai kepentingan sekunder dan mereka akan mengirim anaknya ke sekolah setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah dan di sawah, sehingga zending harus beradaptasi dengan kenyataan ini sehingga sekolah baru dimulai pukul 10 pagi[9]. Lulusannya dapat mengajar di sekolah tersebut atau  mendapat perkerjaan sebagai kepala desa atau juru tulis di kantor pejabat. Sayangnya, Jellesma hanya melayani jemaat Mojowarno  sekitar enam tahun karena ia meninggal pada tanggal 16 April 1858 dan dimakamkan di desa Mojoroto, Mojowarno.

Pasca meninggalnya Jellesma, jemaat Mojowarno tidak mengalami perkembangan, bahkan pada masa pengganti Jellesma yakni S. E. Harthoorn tahun 1858- 1860 ia menutup sekolah yang didirikan oleh jellesma dan menganggap usaha pekabaran injil yang dilakukan oleh NZG di Pulau Jawa adalah usaha yang sia-sia. Pada masa itu memang banyak Kristen Jawa yang masih percaya dengan takhayul, suka berdusta, berjudi, menghisap madat, dan perbuatan dosa lainnya[10]. Hingga masa pengganti Harthoorn yakni W. Hoezoo, ia juga merasa tidak mampu membawa jemaat menjadi lebih maju dan memilih untuk bertukar tempat dengan zendeling Johanes Kruyt yang bertugas di Semarang. Kemudia J. Kruyt menyetujuinya dan memulai pelayanannya di Mojowarno pada tahun 1864.

Pada masa Kruyt ia menetapkan peraturan desa yang sesuai dengan adat Kristen. Peraturan desa tersebut antara lain dilarangnya acara tayuban, anak usia 6-12 tahun diwajibkan bersekolah, tidak diperkenankannya melakukan pekerjaan di sawah pada hari Minggu, dan semua penduduk di Mojowarno harus mengikuti pribadatan di gereja, bahkan pemeluk Islam sekalipun. Tetapi selanjutnya peraturan desa tersebut hanya berlaku bagi pemeluk agama Kristen. 

Pada masa J. Kruyt ia dibantu oleh Paulus Tosari untuk membimbing jemaat. Namun Paulus Tosari meninggal pada pada tanggal 21 Mei 1882. Kemudian J. Kruyt dibantu oleh putranya Ary Kruyt pada tahun 1882. Pada masa bapak-anak Kruyt ini dibuka kembali sekolah calon guru (Normaalschool/ kweekschool) pada tahun 1890, disusul sekolah pertukangan (Ambachtschool). Menjelang akhir abad ke 19, NZG menunjuk guru J. Kats sebagai direktur di sekolah calon guru di Mojowarno pada tahun 1902-1913. Kats kemudian membentuk kurikulum baru dengan tujuan utama pendidikan untuk membentuk guru yang cocok bagi sekolah zending. Melalui pelajaran pertukangan dia mencoba untuk mengajarkan para siswa keterampilan untuk dapat mengumpulkan alat bantu sederhana yang diperlukan untuk pendidikan mereka. Juga semua alat pertanian dan barang-barang rumah tangga Jawa disalin dalam bentuk miniatur untuk tujuan pendidikan ilustrasi.[11]

 

Gereja, Rumah Sakit, dan Pendewasaan Jemaat

Pembangunan gedung gereja dengan tembok beton merupakan usulan dari Paulus Tosari. Usul tersebut mendapat persetujuan dari jemaat dan zendeling Kruyt, kemudian tepat pada tanggal 24 Februari 1879 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh putri bungsu J. Kruyt yang berusia 4 tahun bernama Christina Catharina Kruyt[12]. Pembangunan gedung gereja selesia dan diresmikan pada tanggal 3 Maret 1881. 

Selanjutnya, Arie Kruyt mengusulkan pendirian rumah sakit, karena sebelumnya J. Kruyt juga giat menolong orang-orang sakit. Para usahawan membiayai gedung dan peralatan, kemudian para zendeling membiayai para tenaga kerjanya[13]. Peletakan batu pertama dilkaukan pada tanggal 23 Maret 1992 dan pada tanggal 6 Juni 1894 pembangunan rumah sakit selesai dan diresmikan dengan nama Zendings Ziekenhuis te Mojowarno[14] (Rumah Sakit Zending di Mojowarno) (Rasjid, 2018: 15). Pada tahun tersebut juga datang dokter zending pertama di Modjowarno, Dr. H. Bervoets. Atas rekomendasi Bervoets juga seorang dokter Djawa bernama Ismael dirugaskan di rumah sakit ini.

Pada tanggal 13 April 1916, zendeling Arie Kruyt meninggal disusul ayahnya Johanes Kruyt pada 3 Juni 1918. Selanjutnya, pengganti Arie Kruyt yaitu zendeling C. W. Nortier pada tahun 1916 dan diteruskan oleh J.M.S. Baljon Saat pelayanan J.M.S Baljon, ia mendukung usulan dari jemaat Mojowarno yang ingin dilakukannya pendewasaan jemaat. Setidaknya ada tiga syarat kedewasaan suatu jemaat yang dikenal dengan “Trias Warneck” yakni jemaat dapat mengatur dirinya sendiri; membiayai dirinya sendiri; dan mengembangkan dirinya sendiri. Pada tahun 1922, jemaat Mojowarno telah memiih pendeta Drijo Mestoko sebagai pendeta Jawa pertama, baik di Mojowarno maupun di Jawa. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1923, zendelng Baljon meresmikan kedewasaan jemaat Mojowarno, dan atas bantuan Dr. H. Kraemer pendewasaan Jemaat Mojowarno diakui dan dianggap sah oleh NZG[15].


Penutup

Perkembangan agama Kristen Protestan di wilayah Mojowarno, Jawa Timur tidak bisa dipisahkan dari peranan NZG dalam misi pekabaran injil di Pulau Jawa. Pembangunan sekolah, gereja dan fasilitas kesehatan juga berpengaruh terhadap perkembangan jumlah penganut agama Kristen. Usaha NZG juga tidak selalu berjalan lancar, misalnya anggapan Harthoorn bahwa usaha pekabaran injil di Pulau Jawa adalah sia-sia, kemudian menutup sekolah yang didirikan oleh Jellesma. Bagaimanapun, tulisan ini masih banyak melihat fenomena pada masa itu dari sudut pandang zending karena keterbatasan sumber. Seperti penggambaran pada masa J. Kruyt yang seperti tidak ada celah pada masa pelayanannya.

 



[1] Taufik Abdullah dan A. B. Lapian (Eds), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4: Kolonisasi dan Perlawanan, _(Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012), hlm. 212

[2]  J. D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 5

[3] Taufik Abdullah dan A. B. Lapian (Eds), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4: Kolonisasi dan Perlawanan, _ _(Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012), hlm. 213

[4] A. Kardiyat Wiharyanto, Pergantian Kekuasaan di Indonesia Tahun 1800, dalam SPPS (Vol. 21, No. 1, 2007)

[5] J. D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 5-6

[6] Wolterbeek mengatakan Coolen adalah seorang keturunan Rusia Jawa, sedangkan di buku Indonesia dalam Arus _Sejarah Jilid 4 dikatakan bahwa Coolen merupakan seorang peranakan Belanda-Jawa

[7] Terdapat due versi yang mengatakan alasan perpindahan Jellesma dari Surabaya ke Mojowarno, Pertama, Jellesma _pindah ke Mojowarno untuk menghindari pertentangan dikarenakan usulan seorang Jerman bernama Gunsch    _(sahabat J. Emde) kepada NZG agar menarik Jellesma dari Sidokere, namun usulannya tidak dihiraukan. Versi _kedua mengatakan bahwa Jellesma merasa lebih baik tingga di dekat Ngoro karena adanya perbedaan antara _Kristen Ngoro dan Kristen Wiyung yang ia layani. Ajaran Coolen masih bersifat kejawen dan menjadi sinkretik _dengan mencampurkan antara Yesus Roh Allah dengan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. dan melarang _pembaptisan. Sebaliknya, ajaran Emde juga memiliki kekurangan ketika menganggap orang Jawa Kristen harus _meniru adat kebiasaan bangsa Belanda.

[8] Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka _Kristen, 2018) hlm. 19

[9] Nortier, C. W. 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java (Zendingsstudie-Raad: Stichting _Hoenderloo, 1939) hlm. 250-251

[10] J. D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 40

[11] Nortier, C. W. 1939. Van Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java (Zendingsstudie-Raad: Stichting __Hoenderloo, 1939) hlm. 250-251

[12] R. Soedibjo Meriso, Seabad Gedung Gereja: Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno (1881-1981), (Tidak __diterbitkan, Tanpa Tahun) hlm. 11

[13] Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka __Kristen, 2018) hlm. 29

[14] Abdul Rasjid, Cahaya Itu Terbit dari Mojowarno, Paper, (Tidak diterbitkan, 2018) hlm. 15

[15] Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2018) hlm. 30-32

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEBERADAAN ZENDELING BELANDA DI KECAMATAN MOJOWARNO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1851-1923   K edatangan bangsa Portugis ke Nusantara pada ab...