KEBERADAAN ZENDELING BELANDA DI KECAMATAN MOJOWARNO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1851-1923
Kedatangan
bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-16, selain bertujuan untuk mencari
rempah-rempah, juga berkeinginan untuk menyebarkan agama Katolik. Portugis
membawa para misionaris Katholik terutama ke wilayah Maluku. Berbeda dengan
Portugis, kedatangan Belanda lebih mengutamakan tujuan ekonomi melalui
perdagangan, daripada menjalankan misi penyebaran agama. Sehingga usaha
kristenisasi penduduk pribumi di Jawa baru terjadi pada awal abad ke 19[1].
Melalui usulan
seorang pendeta Belanda dari Persekutuan Zending di Inggris, Dr. J. T. van der
Kemp, maka berdirilah persekutuan dengan nama Nederlandse Zendeling Genootschap (NZG) pada tanggal 19 Desember
1797 di Rotterdam[2] yang menaruh perhatian terhadap pengkristenan pribumi.
Sebelumnya, aktivitas agama Kristen menjadi monopoli pemerintah VOC, yang
terbatas pada pemeliharaan ibadat bagi kalangan VOC dan keluarganya, anggota
militer, dan orang-orang pribumi yang sebelumnya sudah menganut agama Kristen,
misalnya suku yang berasal dari Maluku Utara, Ambon, Timor, dan Minahasa[3]. Pasca runtuhnya VOC pada tahun 1799, Indonesia diambil
alih oleh pemerintah Belanda (Republik Bataaf)[4] dan Indonesia disebut sebagai Hindia Belanda.
NZG mulai
masuk ke Indonesia setelah para utusannya belajar di negeri Belanda dan
kemudian melanjutkan pelajarannya di Inggris hingga resmi menjadi pendeta.
Pendeta yang dikirim antara lain J. Kam; J. C. Supper dan G. Bruckner yang
mendarat di Jakarta pada tanggal 16 Mei 1814 dan disambut baik oleh Thomas
Stanford Raffles (Inggris di Indonesia). Pendeta Kam diutus ke Ambon, Pendeta
Supper di Jakarta, dan Bruckner di Semarang[5].
Sekitar tahun
1827-1829, di Jawa Timur berkembang desa Kristen yakni di Ngoro yang dikenalkan
oleh tokoh yang bukan berasal dari kalangan teolog bernama Coenraad Laurens
Coolen[6]. Ia menyiarkan agama Kristen dengan pendekatan budaya
Jawa. Ajaran Coolen masih bersifat kejawen dan bercampur takhayul juga tidak
dikenalnya baptisan dan perjamuan kudus. Selain Ngoro, di Wiyung dan Sidokere
juga berkembang penduduk yang menganut Kristen melalui ajaran tokoh Johanes
Emde. Melalui Emde-lah dikenal adanya pembaptisan dan perjamuan kudus bagi
penganut agama Kristen. Baru pada tahun 1844 muncul desa baru bernama Mojowarno
yang dibuka oleh pribumi bernama Karolus
Wiryoguno.
Karena di
wilayah Jawa Timur telah banyak pribumi yang menganut agama Kristen, dan
kondisi dinilai aman karena tidak terjadi perselisihan antara pemeluk agama
Islam dan Kristen, maka pemerintah Hindia Belanda mengizinkan pekabaran injil
dilakukan dan NZG diperkenankan mengirim utusannya. Jelle Eeltje Jellesma
(lahir 13 Mei 1816) merupakan zendeling pertama yang diutus ke wilayah Surabaya
pada tahun 1848. Kemudian Pada tahun 1851, Jellesma
beserta keluarga dan para siswanya pindah ke Mojowarno, meskipun baru mendapat
izin secara sah dari pemerintah pada tahun 1852[7].
Perkembangan Sekolah Zending di Mojowarno
Keberadaan
Jellesma di Mojowarno tampaknya mendapat respon positif dari masyarakat di
daerah tersebut karena ia dikenal sebagai orang yang sabar dan bijaksana, serta tidak menganggap
derajatnya lebih tinggi disbanding dengan Kristen pribumi. Di Mojowarno ia
bekerja sama dengan Paulus Tosari, seorang pamulang
pribumi (Guru Injil Jawa) yang diberi kesempatan untuk menjadi “gembala”[8]. Saat melakukan kebaktian di hari Minggu, Jellesma dan
Paulus Tosari bergantian mengajar atau
menyampaikan khotbah. Berkembangnya dua
aliran Kristen, yakni aliran Barat/Eropa ajaran Johanes Emde dan aliran Kristen
Jawa ajaran C. L. Coolen berhasil disatukan oleh Jellesma sehingga menjadi ciri
khas bagi jemaat di Mojowarno. Pribumi yang masuk Kristen dapat dibaptis dan
tanpa harus meninggalkan jati diri sebagai pribumi dan meniru kebiasaan orang
Eropa seperti yang diajarkan oleh Johanes Emde.
Hingga tahun
1856 jemaat di Mojowarno telah berjumlah 1320 anggota, dan yang tinggal di
Mojowarno berjumlah 633 orang. Selain
itu Jellesma juga membaptis orang-orang Kristen Ngoro yang datang ke Mojowarno.
Jellesma juga mendirikan sekolah di Mojowarno, tujuan pendidikan pada awalnya
agar anak-anak dapat membaca Alkitab. Cerita Alkitab adalah bahan bacaan
pertama. Selain menulis dan membaca, juga terdapat pengajaran sederhana
mengenai geografi dan sejarah. Para orang tua umumnya menganggap sekolah
sebagai kepentingan sekunder dan mereka akan mengirim anaknya ke sekolah
setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah dan di sawah, sehingga zending harus
beradaptasi dengan kenyataan ini sehingga sekolah baru dimulai pukul 10 pagi[9]. Lulusannya dapat mengajar di sekolah tersebut atau mendapat perkerjaan sebagai kepala desa atau
juru tulis di kantor pejabat. Sayangnya, Jellesma hanya melayani jemaat
Mojowarno sekitar enam tahun karena ia
meninggal pada tanggal 16 April 1858 dan dimakamkan di desa Mojoroto,
Mojowarno.
Pasca meninggalnya
Jellesma, jemaat Mojowarno tidak mengalami perkembangan, bahkan pada masa
pengganti Jellesma yakni S. E. Harthoorn tahun 1858- 1860 ia menutup sekolah
yang didirikan oleh jellesma dan menganggap usaha pekabaran injil yang
dilakukan oleh NZG di Pulau Jawa adalah usaha yang sia-sia. Pada masa itu
memang banyak Kristen Jawa yang masih percaya dengan takhayul, suka berdusta,
berjudi, menghisap madat, dan perbuatan dosa lainnya[10]. Hingga masa pengganti Harthoorn yakni W. Hoezoo, ia
juga merasa tidak mampu membawa jemaat menjadi lebih maju dan memilih untuk
bertukar tempat dengan zendeling Johanes Kruyt yang bertugas di Semarang.
Kemudia J. Kruyt menyetujuinya dan memulai pelayanannya di Mojowarno pada tahun
1864.
Pada masa
Kruyt ia menetapkan peraturan desa yang sesuai dengan adat Kristen. Peraturan
desa tersebut antara lain dilarangnya acara tayuban, anak usia 6-12 tahun
diwajibkan bersekolah, tidak diperkenankannya melakukan pekerjaan di sawah pada
hari Minggu, dan semua penduduk di Mojowarno harus mengikuti pribadatan di
gereja, bahkan pemeluk Islam sekalipun. Tetapi selanjutnya peraturan desa
tersebut hanya berlaku bagi pemeluk agama Kristen.
Pada masa J.
Kruyt ia dibantu oleh Paulus Tosari untuk membimbing jemaat. Namun Paulus
Tosari meninggal pada pada tanggal 21 Mei 1882. Kemudian J. Kruyt dibantu oleh
putranya Ary Kruyt pada tahun 1882. Pada masa bapak-anak Kruyt ini dibuka
kembali sekolah calon guru (Normaalschool/
kweekschool) pada tahun 1890, disusul sekolah pertukangan (Ambachtschool). Menjelang akhir abad ke
19, NZG menunjuk guru J. Kats sebagai direktur di sekolah calon guru di
Mojowarno pada tahun 1902-1913. Kats kemudian membentuk kurikulum baru dengan tujuan
utama pendidikan untuk membentuk guru yang cocok bagi sekolah zending.
Melalui pelajaran pertukangan dia mencoba untuk mengajarkan para siswa
keterampilan untuk dapat mengumpulkan alat bantu sederhana yang diperlukan
untuk pendidikan mereka. Juga semua alat pertanian dan barang-barang rumah
tangga Jawa disalin dalam bentuk miniatur untuk tujuan pendidikan ilustrasi.[11]
Gereja, Rumah Sakit, dan Pendewasaan Jemaat
Pembangunan
gedung gereja dengan tembok beton merupakan usulan dari Paulus Tosari. Usul
tersebut mendapat persetujuan dari jemaat dan zendeling Kruyt, kemudian tepat
pada tanggal 24 Februari 1879 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh putri
bungsu J. Kruyt yang berusia 4 tahun bernama Christina Catharina Kruyt[12]. Pembangunan gedung
gereja selesia dan diresmikan pada tanggal 3 Maret 1881.
Selanjutnya,
Arie Kruyt mengusulkan pendirian rumah sakit, karena sebelumnya J. Kruyt juga
giat menolong orang-orang sakit. Para usahawan membiayai gedung dan peralatan,
kemudian para zendeling membiayai para tenaga kerjanya[13]. Peletakan batu pertama dilkaukan pada tanggal 23 Maret
1992 dan pada tanggal 6 Juni 1894 pembangunan rumah sakit selesai dan
diresmikan dengan nama Zendings Ziekenhuis te Mojowarno[14] (Rumah Sakit Zending di Mojowarno) (Rasjid, 2018: 15).
Pada tahun tersebut juga datang dokter zending pertama di Modjowarno, Dr. H.
Bervoets. Atas rekomendasi Bervoets juga seorang dokter Djawa bernama Ismael
dirugaskan di rumah sakit ini.
Pada tanggal 13 April 1916, zendeling Arie Kruyt
meninggal disusul ayahnya Johanes Kruyt pada 3 Juni 1918. Selanjutnya,
pengganti Arie Kruyt yaitu zendeling C. W. Nortier pada tahun 1916 dan
diteruskan oleh J.M.S. Baljon Saat pelayanan J.M.S Baljon, ia mendukung usulan
dari jemaat Mojowarno yang ingin dilakukannya pendewasaan jemaat. Setidaknya
ada tiga syarat kedewasaan suatu jemaat yang dikenal dengan “Trias Warneck”
yakni jemaat dapat mengatur dirinya sendiri; membiayai dirinya sendiri; dan
mengembangkan dirinya sendiri. Pada tahun 1922, jemaat Mojowarno telah memiih
pendeta Drijo Mestoko sebagai pendeta Jawa pertama, baik di Mojowarno maupun di
Jawa. Akhirnya pada tanggal 20 Mei 1923, zendelng Baljon meresmikan kedewasaan
jemaat Mojowarno, dan atas bantuan Dr. H. Kraemer pendewasaan Jemaat Mojowarno
diakui dan dianggap sah oleh NZG[15].
Penutup
Perkembangan agama Kristen Protestan di wilayah Mojowarno, Jawa Timur tidak
bisa dipisahkan dari peranan NZG dalam misi pekabaran injil di Pulau Jawa.
Pembangunan sekolah, gereja dan fasilitas kesehatan juga berpengaruh terhadap
perkembangan jumlah penganut agama Kristen. Usaha NZG juga tidak selalu
berjalan lancar, misalnya anggapan Harthoorn bahwa usaha pekabaran injil di
Pulau Jawa adalah sia-sia, kemudian menutup sekolah yang didirikan oleh
Jellesma. Bagaimanapun, tulisan ini masih banyak melihat fenomena pada masa itu
dari sudut pandang zending karena keterbatasan sumber. Seperti penggambaran
pada masa J. Kruyt yang seperti tidak ada celah pada masa pelayanannya.
[1] Taufik Abdullah dan A. B. Lapian (Eds), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4:
Kolonisasi dan Perlawanan, _(Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012), hlm. 212
[2] J. D. Wolterbeek,
Babad Zending di Pulau Jawa (Yogyakarta:
Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 5
[3] Taufik Abdullah dan A. B. Lapian (Eds), Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 4:
Kolonisasi dan Perlawanan, _ _(Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2012),
hlm. 213
[4] A.
Kardiyat Wiharyanto, Pergantian Kekuasaan di Indonesia Tahun 1800, dalam SPPS (Vol. 21, No. 1, 2007)
[5] J.
D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau
Jawa (Yogyakarta:
Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 5-6
[6]
Wolterbeek mengatakan Coolen adalah seorang keturunan Rusia Jawa, sedangkan di
buku Indonesia
dalam Arus _Sejarah
Jilid 4 dikatakan bahwa Coolen merupakan seorang peranakan Belanda-Jawa
[7]
Terdapat due versi yang mengatakan alasan perpindahan
Jellesma dari Surabaya ke Mojowarno, Pertama,
Jellesma _pindah ke Mojowarno untuk menghindari pertentangan
dikarenakan usulan seorang Jerman bernama Gunsch _(sahabat J. Emde) kepada NZG agar menarik Jellesma dari
Sidokere, namun usulannya tidak dihiraukan. Versi _kedua mengatakan bahwa Jellesma merasa lebih baik tingga
di dekat Ngoro karena adanya perbedaan antara _Kristen Ngoro dan Kristen Wiyung yang ia layani.
Ajaran Coolen masih bersifat kejawen dan menjadi
sinkretik _dengan
mencampurkan antara Yesus Roh Allah dengan Dewi Sri sebagai dewi kesuburan. dan melarang _pembaptisan. Sebaliknya, ajaran Emde juga memiliki kekurangan ketika
menganggap orang Jawa Kristen harus _meniru adat kebiasaan bangsa Belanda.
[8]
Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah
Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka _Kristen,
2018) hlm. 19
[9] Nortier, C. W. 1939. Van Zendingsarbeid tot
zelfstandige Kerk in Oost-Java (Zendingsstudie-Raad: Stichting _Hoenderloo, 1939) hlm. 250-251
[10] J.
D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau
Jawa (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1995), hlm. 40
[11] Nortier, C. W. 1939. Van
Zendingsarbeid tot zelfstandige Kerk in Oost-Java (Zendingsstudie-Raad: Stichting __Hoenderloo, 1939) hlm. 250-251
[12] R. Soedibjo
Meriso, Seabad Gedung Gereja: Gereja Kristen Jawi
Wetan Mojowarno (1881-1981), (Tidak __diterbitkan, Tanpa Tahun) hlm. 11
[13]
Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah
Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka __Kristen,
2018) hlm. 29
[14]
Abdul Rasjid, Cahaya Itu Terbit dari Mojowarno, Paper, (Tidak diterbitkan, 2018) hlm. 15
[15]
Madoedari Wiryoadiwismo, dkk., Sejarah
Riyaya Undhuh-Undhuh Mojowarno (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2018)
hlm. 30-32
