SELALU ADA JALAN DAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK SEBUAH
HARAPAN
Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya tidak
menyukai mata pelajaran matematika dan Bahasa Inggris. Sebenarnya dari kelas I
hingga kelas III saya selalu dididik disiplin dalam belajar oleh kakak
perempuan saya. Namun ketika kakak perempuan saya lulus, kemudian bekerja dan
melanjutkan kuliah, tidak ada lagi yang memaksa saya belajar, waktu itu saya
masih kelas IV SD. Hasilnya, nilai saya kadang naik, kadang turun, sepertinya
lebih sering turun. Apalagi mata pelajaran matematika. Saat itupun saya tidak
berani memberitahukan kepada kedua orangtua apa yang menjadi kesulitan saya di
sekolah. Baik masalah pergaulan maupun pelajaran. Tetapi karena harus meminta
tanda tangan orangtua, jadi saya memberitahukan Bapak kalau nilai matematika
saya jelek, tapi Bapak tidak marah, beliau hanya bilang “nanti juga bisa”.
Hal yang paling saya ingat sewaktu SD kelas VI yakni pada
saat perpisahan siswa juga ada pentas seni. Rata-rata siswa mengikuti acara
pentas seni tersebut. Namun saya tidak berminat mengikuti acara-acara seperti
itu, saya tidak membayangkan betapa gugupnya tampil di depan orang banyak.
Kemudian, guru Bahasa Inggris saya waktu itu menyuruh saya untuk menampilkan
pidato dalam Bahasa Inggris, tapi saya menolaknya, namun karena dipaksa saya
pun mau mencobanya. Mungkin karena ketika disurvei di kelas, semua teman-teman
mengatakan menyukai ketika mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, kecuali saya.
Hal yang buruk terjadi, karena saya sendiri pada dasarnya
tidak terlalu hafal teks, dan gugup juga melihat para wali murid yang melihat
dari bawah panggung pentas seni, akhirnya saya berhenti di tengah-tengah dan
melihat sekeliling, takut, gugup, apalagi ada Bapak saya (tapi beruntung bukan
Ibu, setidaknya tidak kena marah).Bapak saya menyemangati dan tersenyum. Namun
saya malah menangis, dan mengucapkan pidato aneh dengan menyebutkan nama-nama
hewan dalam Bahasa Inggris karena tidak hafal lagi dan bingung mau mengucapkan
apa, toh mungkin hanya saya, guru Bahasa Inggris, dan Tuhan yang tahu
artinya.
Setelah acara tersebut, hal aneh terjadi, teman-teman ibu
saya bertanya dimana tempat les Bahasa Inggris saya. Mungkin mereka mengira
saya menyampaikan pesan perpisahan yang menyedihkan. Padahal saat itu saya
memang benar-benar sedih karena tidak hafal teks dan gugup.
Kembali kepada Matematika, sampai SMP pun saya masih
sulit dalam mengerjakan Matematika. Pernah suatu saat kelas VII, saya kaget
mendapat nilai 91, karena itu yang tertinggi diantara teman-teman. Namun itu
hanya lelucon guru saya, karena nilai saya dibalik (aslinya 19), saat diumumkan
pun saya jadi tertawaan teman-teman sekelas, saya sendiri juga ikut tertawa.
Memang tidak tahu malu. Tapi Bapak saya selalu bilang “nanti juga bisa”. Saya
sendiri heran dengan kesabaran Bapak saya menghadapi anaknya. Sangat berbeda
dengan kakak-kakak saya. Jika ibu, mungkin hanya dimarahi sebentar, tapi kalau
Bapak tidak pernah marah sekalipun nilai matematika saya “telur ayam”. Kata
Bapak saya “jangan lupa berdoa, berusaha semampunya”, khususnya untuk mata
pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.
Hal yang saya ingat sewaktu Ujian Nasional SMP, beruntung
untuk mata pelajaran Matematika saya dekat dengan teman saya, yang paling
pintar Matematika di kelas, jadi saya bisa bertanya jika ada soal yang sudah mentok tidak bisa saya kerjakan. Kalau
Bahasa Inggris, saya duduk di depan teman saya yang mendapat “kunci jawaban”
dari tempat bimbelnya, jadi jika ada soal yang sama, saya mencontek jawaban dia.
Mungkin itulah kekuatan doa, selalu ada jalan.
Ketidaksukaan saya terhadap mata pelajaran Matematika dan
Bahasa Inggris tetap berlanjut ketika SMA. Ketika ada bimbingan les Matematika
di SMA juga tidak nyambung, bahkan ketika saya ikut bimbel diluar juga tetap
tidak bisa, ditambah sering tidak masuk ketika bimbingan dua pelajaran
tersebut. Mungkin kedua orangtua saya juga hanya bisa pasrah dan mendoakan
saya. Ibu saya selalu khawatir dengan nilai saya, dan selalu menyemangati
ketika belajar. Dukungan doa dan motivasi Bapak dan Ibu saya-lah yang membuat saya semangat. Sampai ketika UN, saya
hanya bisa berdoa, dan hanya bisa menjawab beberapa soal matematika saja,
mungkin sepuluh soal, yang lain saya jawab dengan bismillah, kalau untuk bahasa
Inggris, saya juga menjawab sebisanya, asal terjawab semua. Ketika pengumuman
hasil UN tiba, saya senang karena dua pelajaran tersebut nilainya memenuhi
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Ujian Nasional. Matematika saya mendapat
57,5, Bahasa Inggris saya mendapat 66,0. Langsung ibu saya membuat nasi kebuli
untuk selamatan kelulusan dan nilai saya. Sebelumnya teman-teman dan orangtua
saya terkejut dengan nilai saya
mengingat “rekam jejak” nilai saya di kedua mata pelajaran tersebut. Kembali
lagi, memang tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT.
Hidup memang
tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan, walaupun Ujian Nasional saya
lulus di mata pelajaran yang menurut saya sulitnya bukan main, namun saya
mengalami kegagalan di SNMPTN untuk masuk ke perguruan tinggi. Saya juga gagal
di SBMPTN. Namun saya tetap beruntung karena mempunyai kedua orangtua dan dua
kakak yang selalu mendukung pilihan saya. Saya memutuskan untuk berhenti satu
tahun, karena takut jika mengikuti Ujian Mandiri akan membebani kedua orangtua.
Apalagi pada waktu itu saya sebenarnya mendaftar bidikmisi, sedangkan
kesempatan mendapakan bidikmisi di jalur Mandiri sebenarnya ada namun sangat
tipis. Saya selalu mengingat kata-kata Bapak saya “semuanya ada waktunya, yang
penting berdoa”. Ibu juga memberikan dukungan penuh dan saya juga dibebaskan
memilih mendaftar dimana saja, meskipun jauh, padahal hanya tinggal saya saja
yang di rumah, kakak perempuan saya sudah berumah tangga, kakak laki-laki saya
juga tidak setiap hari di rumah, hanya pulang tiap minggu. Akhirnya, dengan dukungan
orangtua, baik berupa doa dan motovasi, serta tidak lupa meminta dan berdoa
supaya bisa lulus SBMPTN, akhirnya setelah mencoba kedua kalinya, saya bisa
lulus SBMPTN, meskipun harus jauh dari orang tua. Jadi, tidak ada hal yang
mustahil dan ada saatnya harapan dan doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Semoga
teman-teman juga senantiasa diberi jalan oleh Allah SWT untuk mewujudkan
cita-citanya. Good Luck.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar