Jumat, 07 Juni 2019

Tugas Mata Kuliah Pengantar Teknologi Informasi, Prodi Pendidikan Sejarah


SELALU ADA JALAN DAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK SEBUAH HARAPAN
Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya tidak menyukai mata pelajaran matematika dan Bahasa Inggris. Sebenarnya dari kelas I hingga kelas III saya selalu dididik disiplin dalam belajar oleh kakak perempuan saya. Namun ketika kakak perempuan saya lulus, kemudian bekerja dan melanjutkan kuliah, tidak ada lagi yang memaksa saya belajar, waktu itu saya masih kelas IV SD. Hasilnya, nilai saya kadang naik, kadang turun, sepertinya lebih sering turun. Apalagi mata pelajaran matematika. Saat itupun saya tidak berani memberitahukan kepada kedua orangtua apa yang menjadi kesulitan saya di sekolah. Baik masalah pergaulan maupun pelajaran. Tetapi karena harus meminta tanda tangan orangtua, jadi saya memberitahukan Bapak kalau nilai matematika saya jelek, tapi Bapak tidak marah, beliau hanya bilang “nanti juga bisa”.
Hal yang paling saya ingat sewaktu SD kelas VI yakni pada saat perpisahan siswa juga ada pentas seni. Rata-rata siswa mengikuti acara pentas seni tersebut. Namun saya tidak berminat mengikuti acara-acara seperti itu, saya tidak membayangkan betapa gugupnya tampil di depan orang banyak. Kemudian, guru Bahasa Inggris saya waktu itu menyuruh saya untuk menampilkan pidato dalam Bahasa Inggris, tapi saya menolaknya, namun karena dipaksa saya pun mau mencobanya. Mungkin karena ketika disurvei di kelas, semua teman-teman mengatakan menyukai ketika mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, kecuali saya.
Hal yang buruk terjadi, karena saya sendiri pada dasarnya tidak terlalu hafal teks, dan gugup juga melihat para wali murid yang melihat dari bawah panggung pentas seni, akhirnya saya berhenti di tengah-tengah dan melihat sekeliling, takut, gugup, apalagi ada Bapak saya (tapi beruntung bukan Ibu, setidaknya tidak kena marah).Bapak saya menyemangati dan tersenyum. Namun saya malah menangis, dan mengucapkan pidato aneh dengan menyebutkan nama-nama hewan dalam Bahasa Inggris karena tidak hafal lagi dan bingung mau mengucapkan apa, toh mungkin hanya saya, guru Bahasa Inggris, dan Tuhan yang tahu artinya. 
Setelah acara tersebut, hal aneh terjadi, teman-teman ibu saya bertanya dimana tempat les Bahasa Inggris saya. Mungkin mereka mengira saya menyampaikan pesan perpisahan yang menyedihkan. Padahal saat itu saya memang benar-benar sedih karena tidak hafal teks dan gugup.
Kembali kepada Matematika, sampai SMP pun saya masih sulit dalam mengerjakan Matematika. Pernah suatu saat kelas VII, saya kaget mendapat nilai 91, karena itu yang tertinggi diantara teman-teman. Namun itu hanya lelucon guru saya, karena nilai saya dibalik (aslinya 19), saat diumumkan pun saya jadi tertawaan teman-teman sekelas, saya sendiri juga ikut tertawa. Memang tidak tahu malu. Tapi Bapak saya selalu bilang “nanti juga bisa”. Saya sendiri heran dengan kesabaran Bapak saya menghadapi anaknya. Sangat berbeda dengan kakak-kakak saya. Jika ibu, mungkin hanya dimarahi sebentar, tapi kalau Bapak tidak pernah marah sekalipun nilai matematika saya “telur ayam”. Kata Bapak saya “jangan lupa berdoa, berusaha semampunya”, khususnya untuk mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.
Hal yang saya ingat sewaktu Ujian Nasional SMP, beruntung untuk mata pelajaran Matematika saya dekat dengan teman saya, yang paling pintar Matematika di kelas, jadi saya bisa bertanya jika ada soal yang sudah mentok tidak bisa saya kerjakan. Kalau Bahasa Inggris, saya duduk di depan teman saya yang mendapat “kunci jawaban” dari tempat bimbelnya, jadi jika ada soal yang sama, saya mencontek jawaban dia. Mungkin itulah kekuatan doa, selalu ada jalan.
Ketidaksukaan saya terhadap mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris tetap berlanjut ketika SMA. Ketika ada bimbingan les Matematika di SMA juga tidak nyambung, bahkan ketika saya ikut bimbel diluar juga tetap tidak bisa, ditambah sering tidak masuk ketika bimbingan dua pelajaran tersebut. Mungkin kedua orangtua saya juga hanya bisa pasrah dan mendoakan saya. Ibu saya selalu khawatir dengan nilai saya, dan selalu menyemangati ketika belajar. Dukungan doa dan motivasi Bapak dan Ibu saya-lah yang  membuat saya semangat. Sampai ketika UN, saya hanya bisa berdoa, dan hanya bisa menjawab beberapa soal matematika saja, mungkin sepuluh soal, yang lain saya jawab dengan bismillah, kalau untuk bahasa Inggris, saya juga menjawab sebisanya, asal terjawab semua. Ketika pengumuman hasil UN tiba, saya senang karena dua pelajaran tersebut nilainya memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) Ujian Nasional. Matematika saya mendapat 57,5, Bahasa Inggris saya mendapat 66,0. Langsung ibu saya membuat nasi kebuli untuk selamatan kelulusan dan nilai saya. Sebelumnya teman-teman dan orangtua saya terkejut dengan  nilai saya mengingat “rekam jejak” nilai saya di kedua mata pelajaran tersebut. Kembali lagi, memang tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT.
Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan, walaupun Ujian Nasional saya lulus di mata pelajaran yang menurut saya sulitnya bukan main, namun saya mengalami kegagalan di SNMPTN untuk masuk ke perguruan tinggi. Saya juga gagal di SBMPTN. Namun saya tetap beruntung karena mempunyai kedua orangtua dan dua kakak yang selalu mendukung pilihan saya. Saya memutuskan untuk berhenti satu tahun, karena takut jika mengikuti Ujian Mandiri akan membebani kedua orangtua. Apalagi pada waktu itu saya sebenarnya mendaftar bidikmisi, sedangkan kesempatan mendapakan bidikmisi di jalur Mandiri sebenarnya ada namun sangat tipis. Saya selalu mengingat kata-kata Bapak saya “semuanya ada waktunya, yang penting berdoa”. Ibu juga memberikan dukungan penuh dan saya juga dibebaskan memilih mendaftar dimana saja, meskipun jauh, padahal hanya tinggal saya saja yang di rumah, kakak perempuan saya sudah berumah tangga, kakak laki-laki saya juga tidak setiap hari di rumah, hanya pulang tiap minggu. Akhirnya, dengan dukungan orangtua, baik berupa doa dan motovasi, serta tidak lupa meminta dan berdoa supaya bisa lulus SBMPTN, akhirnya setelah mencoba kedua kalinya, saya bisa lulus SBMPTN, meskipun harus jauh dari orang tua. Jadi, tidak ada hal yang mustahil dan ada saatnya harapan dan doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Semoga teman-teman juga senantiasa diberi jalan oleh Allah SWT untuk mewujudkan cita-citanya. Good Luck.

KEBERADAAN ZENDELING BELANDA DI KECAMATAN MOJOWARNO KABUPATEN JOMBANG TAHUN 1851-1923   K edatangan bangsa Portugis ke Nusantara pada ab...